21 Januari 2013

Hanya Surat Rindu [6]




  Salam, Jun.
Malam ini, ketika aku ingin menulis surat untukmu. Aku merasa ada yg aneh dalam pikiranku. Aku tak tahu apa, yg jelas semua terasa dingin lebih dari biasanya, bahkan secawan kopi tak begitu terasa dilidahku. Apa ini masih rinduku. Jun ?

  Ohiya, apakabar, Jun ? Aku lupa menanyakan ini. Hehe, maklum, aku sudah mulai pikun sekarang ^_^
Jun, mukin tak banyak kata yg kutulis malam ini, tapi aku punya sedikit pertanyaan untukmu.
  Aku tahu dengan aku menanyakan sesuatu, belum tentu akan terjawab olehmu, tapi pertanyaan ini begitu mengganggu pikiranku. Jun, apakah ada namaku disetiap lamunanmu ? Adakah dalam pikiranmu tentang apa yg kulakukan, apa yg kurasakan dan apa yg aku inginkan ? Apakah kau tahu dengan semua sikapku yg semakin lama 'mungkin' menjadi teror dalam keseharianmu ? Apa kau resah dengan segala tingkah lakuku ? Aku tak tahu tentang pertanyaan pertanyaan ini. Pikiranku mulai buyar ketika aku kembali menatap nanar bayanganmu.

  Aku tersenyum sedikit ragu karna rinduku.
  Kataku mulai tereja tak karuan
  Bayanganku yg mulai blur
  Kala itu,
  Hanya bertukar kata denganmu, selaksaku bahagia. Meski itu hanya sesapa.
  Lembut senyummu.
  Tak mampu kurangi rasa takutku.
  Aku taku jika keadaanku hanya sebatas rindu.
  Meski begitu, kupelihara rasa ini untukmu.
  Perlahan-lahan, aku menutup mata dan mulai merapal senyummu.
  Kuanggap itu jumpa agar sedikit kurangi rasa rindu.
  Karena aku disini menunggu.
  Dengan senyumku, biarkan aku tetap memikirkanmu.

Tapi, tentang apa ini ? Apakah aku hanya sedikit cemas karnanya datangkan ragu ? Tapi apa yg aku cemaskan ? Keadaan selalu memaksaku untuk melupakanmu. Tapi hatiku, senyummu dan segalanya tentang bayangan yg seolah menghantuiku ? Ini selalu membuat keinginanku untuk terus membuktikan apa yg aku tak tahu. Aku selalu ingin buktikan padamu, tapi entah apa yg ingin aku tujukan.


 Tapi, Jun. Setiap arti dalam kataku, pertanyaan seolah tak ada matinya. Bahkan aku ingin bertanya, apa yg harus aku tanyakan padamu.

  'Jun, sedang apa kau ketika membaca surat ini'

Jika, pertanyaan satu ini kau jawab, dan selalu kau jawab pertanyaan-pertanyaan yg serupa. Kurasa semua pertanyaan pertanyaan akan terjawab dengan sendirinya. Ya, aku ingin selalu tahu tentangmu, tentang apa yg kau lakukan, tentang kabarmu. Dimanapun itu. Kapanpun itu. Aneh ya. Iya. Emang. Merindukanmu juga aku merasa aneh ... :p


  Hey, Jun. Sadar gak, kalau pertanyaanku yg aku tulis itu 'tidak sedikit'. Itu menurutmu. Tapi sesungguhnya masih ada pertanyaan pertanyaan yg akupun tak tahu apa bahasa yg tepat untuk setiap pertanyaanku. Aku memang bego, tapi aku ingin pintar dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Hem.



  Sudahlah Jun, sudah pagi, tampaknya aku harus istirahat.
Terimakasih Jun, sudah mau menjadi orang yg aku bicarakan dalam setiap suratku slama ini (sebenarnya tokoh utamanya aku apa kamu sih, Mudah-mudahan 'kita' ya) *digetok Jun*



Bye, Jun. Aku tunggu #kode-mu ya jika sudah membaca surat ini. Aku masih nunggu balasanmu loh..


Dari 'aku' untuk 'Jun'

20 Januari 2013

Hanya Surat Rindu [5]



  Hey, Jun. 
Tampaknya kali ini aku tak akan menanyakan kabarmu.
Ya, setelah malam itu, saat kamu memberikan kabarmu, rasaku tak mampu dilukiskan, jika hanya untuk di ibaratkan. Mungkin ini ibarat malam yg dingin senyap, sepi tanpa suara, bahkan jangkrik-pun enggan untuk berbisik, lalu sebuah cahaya kecil datang bak kunang-kunang malam datangkan cahaya. Pupil mataku mengecil seketika. 

  Hey, Jun. Ntah apa yg akan terjadi dengan kertas putih ini nantinya. Entah apa yang akan kutuliskan disini. Mungkin memang kamu belum sepatahpun memberikan kata tentang surat-suratku, terlebih untuk membalasnya. Ya, kutahu kamu masih belum punya waktu untuk itu. Tapi, Jun. Setelah kabar yg aku terima, ingin rasanya aku bercerita pada semesta bahwa sapa terindah itu sepenuhnya milikmu. Ya ini menurutku dan juga menurut rasaku.

  Jun, apa kau tahu tentang cerita yg sedang kita perankan ?
Menurutku kau tahu, setelah kau mengibaratkan cerita ini dalam lagu-lagu. Kurasa kamu benar-benar tau. Jun, aku benar berpikir keras tentang bahasa apa yg akan ku tulis lagi disini. Suaraku habis tak bergeming, numun kubiarkan. Kuharap suara habisku dapat terganti oleh kata-kata. Kata-kata yg akan mewakili perasaanku padamu.

  Jun, kali ini aku tak tau tentang rasa, benar benar tak tau tentang apa yg kurasakan. Entah rasa apa ini, ketika aku hilang tanpa kabarmu, ketika aku rindu tanpa sapamu, ketika aku pilu lihat sedihmu, ketika aku bahagia lihat canda tawamu dan terkesima melihat segurat pipimu pancarkan rona keindahan senyummu. Masa-masa itu hanya membuatku ingin berkata moga: Tuhan, hentikan waktu sejenak saat ia tersenyum


  Jun,..... Jun Jun Jun, ya, aku masih saja menyebut namamu denagan panggilan itu. Hehe, maaf, kelihatannya aku banyak ngelantur dalam surat ini. Tapi tentang rasa, itu fakta adanya. 


  Oh jun, rasanya aku ingin melepaskan jemariku diatas kertas putih ini. tapi sebelumnya, apa kamu ingat lagu ini

"Nee, kono sekai ni wa takusan no
Shiawase ga arunda ne
Itsuka futari nara"
      "Hey, ada banyak kebahagiaan di dunia ini
         Jika kita bersama suatu hari nanti, "

  Sudah ah, aku hanya ingin ingatkan saja... :p
Lagian aku juga udah ngatuk. Ya, kali ini aku menulisnya rada malaman. Hehe....



Jun, aku masih bertanya tentang apa rasaku.
Dan juga tetap menunggu apa yang tak aku harapkan. Balasanmu :)

Bye, Jun



Dari 'aku' Untuk 'Jun'






18 Januari 2013

Hanya Surat Rindu [4]






Kepada Yts. : 
Jun ...
Ditempat.

Dengan tidak mengurangi rasa rindu saya....

  Hei, hei, hei, ngomong apa saya ini.. Hehe. Maap, Jun. Maklum, udah keabisan ide buat bikin surat ini lagi, padahal ini baru surat ke-4, ku. Hem...

  Hey, Jun. Apakabar ? 
Maaf, jika aku masih menanyakan ini. Tapi ini gak penting, yg terpenting kali ini, aku mau bilang : 'bagaimana dengan balasan surat-surat-ku, Jun?' kamu masih belum memiliki [banyak] waktu ya ? Tetap gapapa kok Jun, aku masih nunggu kok.. Biasanya kan juga aku nunggu, dan entah mengapa kata 'menunggu' ini sudah tak asing lagi bagiku. Padahal siapa saja pasti bilang menunggu itu tak enak. Ah, bagiku ini candu, Jun. [yekali, dikata rokok] -eh. Tapi, Jun. Ini ada nyata, ketika sibuk-ku seharian aku habiskan dengan membuang-buang keringatku, pernah sekali aku tak merindukanmu. Kala itu, bagiku, 24 jam-ku terasa terbuang sia-sia, seperti tak ada kejadian didalamnya. Ya, kaulah apa yg dikatakan orang² itu candu.

  Tapi, Jun. Bukan berarti aku ingin selalu merasakan rindu ini. Hey, candu itu dimana-mana menyiksa, Jun. Oh, tapi biarlah, meski ini siksa. Yg namanya candu juga harus dipenuhi, kan ? Mungkin penghilang rindu bagiku hanyalah sua. Sua, yg akan menemukan 4 bola mata kita. Sua yg mungkin jadi pengganti selimut yg selama ini membalutku, bukannya hangat. Makin gigil malah kurasa hingga ke tulang rusuk. Ya, selimut itu bernama rindu. uuuuu, mulai kan aku ngomong gaje, Jun.

  Oh ya, Jun. Ada satuhal yg mau aku sampaikan. Um.. Apa yah, diih, jadi gak enak nulisnya. Itu loh jun. Soal gambar² yg kamu beri, aku belum menghapusnya. Ibu pernah bertanya, siapa gambar yg ada di ponselku. Aku jawab 'dia selebtweet mak, aku mengidolakannya' Hihihi.... Maaf ya.. Ohya, Jun. Udah lama ya, kamu gak ngirim² gambar lagi. Hehe, jadi ingat ketika kamu ngirim gambar pertama, dan memintaku menebak mana wajahmu diantara teman²mu. Oh, aku banyak salah menebaknya... Hehe

  Hey, Jun. Ngomong-ngomong soal gambar. Aku mau minta maaf lagi nih. Aku menyimpan semua gambar yg kamu upload dari setiap media sosialmu. Hehe, sampai ke -instagram juga udah ada di ponselku sekarang. Eh, baju barumu yg berwarna merah ke-gelap-gelapan itu aku jadiin wallpaper Hp ku, aku suka yg itu, meski tanpa kerudung. Adalagi sih yg aku suka, yg berwana abu-abu 2 frame itu.. Uwwwwwwoooo, itu cantiknya maksimall... Eh, maap :p 

  Iya, kenapa abu-abu ? Ya, semenjak itu aku suka warna abu-abu, aku yg gelap dan kaulah putih bersih, karna adanya abu-abulah kita ... *eh, kamu ngerti gak ? Aku sih enggak. 

  Eh, Jun. Udah waktunya aku makan siang, aku makan dulu ya .. Mungkin esok aku akan melanjutkan surat ini, esok bercerita apa lagi ya .... Oh, mungkin aku mau bicara soal Supercell-I'm Yours. Iya, surat² ini tertulis seperti cerita ya ... hohoho.


  Eh, tungguuuuuu. Soal balasan suratku, aku masih menunggu loh. Kapanpun itu. 
Oke, Bye Jun...



 Dari 'Aku' Untukmu 'Jun'

Hanya Surat Rindu [3]




  Hai, Jun. Apakabar ?
Kamu tak bosan dengan pertanyaan ini kan..?
Ohiya Jun, ini sudah ada 3 suratku untukmu, kabar terakhir yg kuterima, kau sudah membaca 2 surat sebelumnya ya ? Syukurlah. Tapi kelihatannya kau belum punya waktu untuk membalas suratku ya ? Gapapa, aku tak berharap penuh kau membalasnya, waktumu terlalu padat, kan ? Membacanya lalu memberi petunjuk² itu saja aku sudah lega. Berarti, aku menulis tidak percuma.

  Oh, Jun. Pepagian tadi, kau menerima pesan singkatku, kan ? Dan kau membalasnya, kan ? Hahaha... Tau gak jun ? Pesan itu sebenarnya iseng-iseng ku saja. Pagi tadi aku masih ngantuk berat padahal, tapi ibu udah berusaha membangunkanku, karena pukul 8, aku sudah harus berangkat kerja. Iseng sih pesan itu, karena biasanya, jika aku sudah menggenggam ponselku, aku langsung buka acc twitterku. Ntah kenapa, dan mungkin kebetulan juga, tadi pagi aku tak melakukan itu, aku hanya langsung buka tab smsku, sapa tau kau membalas pesan semalam..... Ah, ternyata tidak, makanya aku iseng mengirimnya sekali lagi. Hehe.

  Tapi, ketika iseng pagi-ku menyapamu, kau membalasnya. Aku senang sekali looh! Ibu saja sampai kaget melihat-ku pagi² udah mandi.. Hehe, iya, aku biasanya jarang mandi kalau lagi males. :p
Tapi sapamu pagi tadi buatku semangat lagi, seperti kau memberikanku nafas dalam lautan sesak rindu ini #halaah, ngelantur lagi. Kan.... 

  Eh, Jun. Tau gk, aku mulai bingung loh, mau nulis apa lagi. Terkesan aku seperti curhat di balik kertas putih ini.. Yaaah, abis kamu sih, belakangan cuek-cuek bebek. Padahal masih ada 27 hari lagi/27 surat lagi yg bakal aku bikin.. Ntah lah, Jun, yang jelas, aku masih disini bersama judul judul yg aku tuliskan dari setiap surat yg aku berikan...

  Jun... Aku pamit dulu ya.. Aku bingung mau menulis apa lagi, kelihatannya tombol 'backspace' udah mulai kendor, abis dari tadi aku hanya menghapus kata demi kata yg akan kutunjukkan padamu. Intinya aku rindu, dan kini rindu mulai memudar setelah kau berikan-ku sapaan siang tadi. Terima kasih Jun, untuk hari ini.. Miss You ;)

Oiii tunggu, satu lagi. Jangan lupa balas surat ini ya, jika sempat. bye Jun...

Dari 'Aku' Untuk 'Jun'

16 Januari 2013

Hanya Surat Rindu [2]



  Hay, Jun, apakabar ?
Biarlah pertanyaan ini selalu ter-tanya ya.. :)
Mogaku kau baik baik saja. Tapi pengamatanku tak berkata begitu, aku tau kau lelah Jun, tapi do'aku selalu untukmu kok. Kuselipkan namamu setelah kedua nama orang tuaku..

  Hey, Jun. Ini surat ke-2 ku. Kamu tau.. ? yaaah, semoga kamu sudah baca surat sebelumnya. Tapi pertanda itu belum aku terima, dan surat itu juga belum terbalaskan olehmu. Tapi tak apa, masih ada 28 surat lagi untukmu dalam #30HariMenulisSuratCinta. Aku tunggu itu, kapanpun itu, kapanpun kau bisa membalasnya.

  Kutahu, kau tak memiliki banyak waktu, Jun. Aku tahu dengan segala kesibukanmu. Yang aku tak tahu, apakah ada namaku terselip diantara gumamanmu terhadap apa yg kau keluhkan. Aku ingin jadi pendengar setiamu lagi Jun, lelahmu ingin aku tawakan. Bukan menertawakanmu, tapi mengajakmu tertawa lagi bersamaku. Jun...

  Ah, kenapa jadi melankolis bagini.. Hahaha
Ohya, Jun. Tadi pagi kamu membalas pesan singkatku ya.. Kamu tau apa yg aku rasakan ? :


  Ya, itu perasaanku. Lebay ya ? Yee, lebay-jablay gini, aku sayang kamu :p
 Ah sudahlah, masih banyak yang harus aku tuliskan lagi untuk 28 Hari kedepan, lagian aku tak banyak memiliki kata tentang perasaan ini, kau adalah perasaan yg tak mampu dikatakan, Jun. ... Heh, kan, menye-menye lagi aku nya Jun.

  Oh ya jun, aku laper nih, ketika menulis surat ini, tak seperti kemarin ada yg mengirim pesan buat mengingat makanku, hehe. Kamu kapan ingatin makanku lagi jun ? Aku tunggu ya, beserta (mungkin) balasanmu tentang surat ini..

Hehe, bye jun. sampai jumpa di-surat berikutnya. 

Dari 'Aku' untuk 'Kamu'
 

15 Januari 2013

­Hanya Surat Rindu



  Hai, Jun. Apakabar ?
Lucu ya, jika aku selalu menanyakan ini..
Lebih lucunya jika pertanyaan-pertanyaan kecil ini tak lagi mampu terjawab. Mungkin ini pertanyaan ter-sulit yah, bagimu ?. hehe.

  Ohya, kamu lagi apa ketika membaca surat ini ? Jangan jawab kau sedang mebaca surat ini lagi ya, seperti biasanya. Hahaha. Iya, biasanya kamu-kan selalu aku tanya. "lagi ngapain Jun?" ketika aku masih sering melakukan panggilan ke-ponselmu. "lagi telponan" jawabmu lucu.

  Jun, kamu tau gak ? Saat ini, ntah kenapa rasa aku padamu semakin pekat. Aku gak tau ini perasaan apa. Perasaan ini muncul setelah kamu mulai menghilang... Hey, dulu aku sempat berniat melupakanmu. Ini serius, tapi... Yah, seriusku emang kadang ngaco. Mana ada serius pakai tapi. Semakin aku punya niat tuk tak lagi memikirkanmu. Semakin rasa kosong tak bergeming. Ketika itu gumamku selalu. "tentang apa ini?" Yah, itu masih tentangmu kurasa.

  Dan kini sudah aku putuskan, aku bertahan sekuat, semampu dan semauku. Hey lagi Jun, belakangan aku sering terlambat makan. Apa kau ingat alasan ini ? Hehe... "sudah makan" tanya kecilmu "aku mau makan jika aku di ingatkan dulu" jawabku sebanyolku. Yaah itu memang jalanku untuk begitu. Sampai sekarang sudah jarang ada yg ngingatin aku makan. Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa aku tak bisa tanpamu. #eaa.

  Soal makanku gk usah kamu pikirkan. Aku mulai terbiasa sekarang tanpa kata-kata pengingat itu. Seperti biasanya aku merindukanmu. Hehe. Mending kamu pikirkan saja niatmu ke-kota impianmu itu.. Eh, iya, bagaimana dengan niatmu yg ingin ke-kotaku ? Apa itu jadi..? Aku berharap loh, ku usahain deh cari vespa pintamu. Tapi kelihatannya kamu sibuk ya, gapapa... Yang penting kamu wujudkan saja mimpimu ke-negri sakura itu. Soal kekotaku itu sih urusanmu .. Bweek :p

  Ah.. Ah..Ah.. Sudahlah, ngelantur lagikan akunya. Yg penting aku mau kamu tetap sehat ya... Jangan telat-telat ya makannya, apalagi sampe lupa. Lupa nafas juga, jangan. Nanti mati #PLAK. Aku juga mau makan, ketika surat ini aku tuliskan, tadi ada yg mengirim pesan diponselku. Sepertinya ini ayah. Ohya, terakhir, 'jika' jadi kamu ke-kotaku. Aku bolehkan memintamu memasakan dadar telur yg pernah aku ceritakan, kan ?

Kutunggu balasanmu. Dari 'Aku' untuk 'Kamu'
Salam Rindu padamu yg aku tak pernah tau siapa kamu.



14 Januari 2013

Adakah ini Cinta ?



Bagai kunang-kunang.
Kau selalu terangi malam.
Meski bulan tak lagi terang.
Dalam hati, aku selalu bergumam

          Apa malam kan begini selalu?
          Apa aku bisa terus bersamamu?
          Apa kau bisa selalu terangi malamku?
          Ya, mungkin. Katamu.

Kenapa begini?
Kenapa kau seperti tak percaya diri?
Jawabanmu sungguh sesakan hati.
Apa kau masih bisa aku percayai.

Lirih suaramu, samar di telinga.
"Sayang, aku tak mengapa.
Jalani saja dulu cerita.
Agar kau dan aku bisa selalu jadi kita.
Meski tak bersama"

Diam.
Aku diam.
Kau diam
Dan seperti biasa, semua cerita kembali kita akhiri dengan diam.



13 Januari 2013

[Puisi Lagu] Jar Of Hearts

Kau Pikir Kau Siapa ?

Dulu, kau kupuja.
Dulu, kau kudamba.
Dulu, kau kumakna.
dan dulu juga, kaulah segalanya.

          Tapi.

          Kini kau buatku kecewa.
          Dengan segala koleksi haatimu, kau hinakan cinta.
          Tanpa sadar, kau buatku berharap.Berharap pada cinta.
          Kau pikir, kau siapa ?

            Lalu, kau datang.

                    Penyesalan katamu.
                    Aromamu masih buatku ragu.
                    Dengan segala tingkahmu.
                    Kau pikir aku mau ?
                    Kembali dengan kebusukanmu.
                    Masih buatku ragu.
                    Apa aku harus menunggu ?

Apa kau ingat ?

          Ketika aku kau caci.
          Ketika aku kau maki.
          Apa kau perduli?
          Apa kau tak tau aku perduli?
          Apa ini masih masalah hati?

Diam.
Kau hanya diam.
Kembali sesal terucap.
Tapi pertanyaan, tak pernah kau jawab.

                    Maaf, aku tak bisa kembali.
                    Kau urus saja toples yg penuh dengan hati.
                    Hati siapa itu?
                    Tak tau jawabku.
                    dan aku juga tak mau tau.
                    Mungkin ada hatiku disitu.
                    Tapi aku tetap tak mau tau.

Kau pikir kau siapa ?



#NP - CHRISTINA PERRI [ Jar of Hearts ]

11 Januari 2013

Modus dan Sepik [BEDA]



  Woy, gue udah gak mau basa-basi lagi. Gue tau gue udah "jarang" nge-blog belakangan ini. Tapi itu gak penting [yang penting aku sayang kamu] - #terIyan ........

  Sebelumnya gue mau nanya. Siapa diantara kalian yg pernah nyepik/modusin orang via socmed ? bulcit ah kalau bilang gak pernah. Mau itu cewek apa cowok, dalam dunia persilatan per-socmed-an. Sepik dan Modus ini adalah makanan pokok dari para pelaku... Oke gue mulai gak jelas.

  Intinya, dalam perbincangan "kita" kali ini #tsyaaaah. [kita ? lu aja sama temen-temen lu yg suka sama gue nge-gosip] Dalam pembahasan article gue kali ini.. [udah jangan banyak protes, nanti tak cium mau ?] gue mau nge-bahas tentang dunia per-modusan/sepik-an. Sejatinya, Sepik dan Modus itu berbeda, karena Modus butuh sepik, dan sepik tak selamanya bertujuan untuk modus. Hehe,.

  Sepik, [menurut gue] ialah kata² bualan/gombalan, yg bertujuan untuk  mem-fly-kan target yg di sepik. Sepik, juga bisa dijadikan bahan untuk hiburan semata. *eh.

Kata sepik contohnya :




   Pertama, tweet gue itu menunjukan sepik, yg bermaksud untuk modus. Apa modusnya ? Nanti kita lihat...
Kedua, tweet gue sedang nyepik cewek ketje, di temlen. Ceritanya..... Gitu #halah.


Pengikut BEGO-BLOG